Laman

Posted by Hafid Wicaksana

RODA PINTAR MATEMATIKA (Bangun Datar dan Bangun Ruang)

Bentuk Alat Peraga , Alat peraga ini berupa papan persegi panjang 95cmx80cm dengan tebal 5cm, terdiri dari 3 lapisan berupa lingkaran (diameter 55 cm), persegi panjang dengan rongga berupa lingkaran di bagian tengah (95cmx80cm) serta dipaku pada figura kayu (95cmx80cm) kemudian di sisi lain figura ditutup dengan melamin persegi panjang (95cmx80cm),dan di dalam rongga figura terdapat lampu untuk menerangi ruang di dalamnya.

Posted by Hafid Wicaksana

MENDIDIK MANUSIA WIRASWASTA MELALUI KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT

Kewiraswastaan merupakan suatu hal yang sangat ingin dilakukan oleh sebagian orang. Profesi ini mulai banyak digemari oleh orang-orang dari berbagi kalangan masyarakat. Hal ini sebagai batu loncatan atas kegagalan-kegagalan dalam mencari pekerjaan. Kewirausahaan merupakan suatu profesi mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain bahkan dikemudian hari ini bisa menciptakan suatu lapangan pekerjaan.

Slide Show

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT

SEJARAH MANAJEMEN HUMAS 
Kemunculan manajemen humas ditandai dengan kegagalan profesi kehumasan dalam menghadapi krisis pada tahun 1906. Saat itu, terjadi pemogokan buruh industri penambangan batu bara di AS yang mengancam kelanjutan dari industri batu bara tersebut. Muncul seorang tokoh Humas pertama, Ivy LedBetter Lee yang memperkenalkan manajeman humas sebagai salah satu solusi yang tepat untuk menangani masalah tersebut. Salah satu teknik manajemen humas yang dikemukakan adalah dengan memberikan informasi terbuka, baik kepada khalayak/publik, pekerja, maupun pihak pers. 

PENGERTIAN MANAJEMEN HUMAS 
Manajemen humas adalah proses penelitian, perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian suatu kegiatan komunikasi yang disponsori oleh organisasi. Proses manajemen humas biasa dilakukan oleh seorang praktisi dalam kegiatan humas. Menurut Frank Jeffkins, humas merupakan segala sesuatu yang terdiri dari semua bentuk komunikasi berencana, baik ke dalam maupun ke luar, untuk mencapai tujuan khusus, yaitu pengertian bersama. Sedangkan Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktik pendidikan serta berupaya dalam memperbaiki sekolah. 

UNSUR-UNSUR MANAJEMEN HUMAS 
Dalam melaksanakan manajemen humas, menurut George R.Terry seorang praktisi humas perlu mempersiapkan unsur-unsur yang diperlukan demi tercapainya tujuanyang maksimal, yakni: 
Manusia baik laki-laki, maupun perempuan (men and women). Pihak yang terlibat dalam proses manajemen mamainkan peranan penting terhadap keberhasilan kinerja manajemen. 
Alat-alat yang diperlukan (materials) mencakup barang-barang yang harus dibeli atau dipersiapkan demi keberhasilan proses manajemen. 
Sarana yang digunakan (machines) meliputi semua yang mendukung penggunaan dari barang atau alat yang dimiliki dalam proses manajemen. 
Metode yang dipakai (methods) meliputi teknik atau cara yang digunakan dalam menjalankan proses manajemen. 
Dana (money) merupakan seberapa banyak anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan program. 
Pasar atau khalayak yang akan dituju (market) merupakan target sasaran perusahaan dalam menjalankan proses manajemen. 

TUJUAN MANAJEMEN HUMAS 
Mengenai tujuan hubungan sekolah dan masyarakat (orang tua murid), leslie merumuskan tujuan organisasi perkumpulan antara guru dan masyarakat (orang tua murid), adalah sebagai berikut: 
  • Untuk mengembangkan pengertian masyarakat (orang tua murid) tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah. 
  • Untuk memperlihatkan bahwa rumah dan sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak disekolah. 
  • Untuk membari fasilitas pertukaran informasi antara orang tua dan guru yang kemudian mempunyai dampak terhadap pemecahan pendidikan anak. 
  • Perolehan opini masyarakat tentang sekolah dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orang tua dalam rangka untuk kebutuhan murid-murid. 
  • Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak (Indrafachrudi: 1994). 
TUGAS POKOK MANAJEMEN HUMAS 
Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat dalam pendidikan antara lain: 
  • Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya. 
  • Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya. 
  • Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu. 
  • Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan. 
  • Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama. 
  • Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan (Suryosubroto: 2004). 
JENIS HUBUNGAN 
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu: 
  • Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak. 
  • Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya. 
  • Hubngan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya (Purwanto, 2005: 193). 
TAHAPAN MANAJEMEN HUMAS 
  • Tahapan-tahapan dalam manajemen humas merupakan proses yang meliputi hal-hal sebagai berikut:  Perencanaan (planning) mencakup penerapan tujuan dan standar, penentuan aturan dan prosedur, serta pembuatan rencana dan prediksi akan apa yang akan terjadi. 
  • Pengorganisasian (organizing) mencakup pengaturan anggota dan sumber daya yang dibutuhkan dan pemantauan kinerja karyawan. 
  • Pengkoordinasian (coordinating) mencakup pengaturan struktur kepanitiaan, pendelegasian kerja masing-masing bagian, dan penyusunan alokasi anggaran untuk masing-masing bagian. 
  • Pengkomunikasian (communicating) mencakup penyampaian rencana program kepada publik internal dan eksternal.
  • Pelaksanaan (actuating) merupakan tindakan menjalankan program sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
  • Pengawasan (controlling) merupakan kontrol atas jalannya pelaksanaan program.Tanpa adanya kontrol atas program, kesinambungan antar tahapan tidak dapat berlangsung dengan baik. 
  • Pengevaluasian (evaluating) merupakan penilaian terhadap hasil kinerja program, apakah perlu dihentikan atau dilanjutkan dengan modifikasi tertentu. 
  • Pemodifikasian (modificating) merupakan kegiatan pembaharuan atau revisi program berdasarkan hasil evaluasi. 
CARA MENGATUR HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT 
1) Hubungan komunikasi antara siswa dengan masyarakat.
  • Presentasi musik.
  • Menampilkan drama.
  • Pergi ke tempat-tempat yang menarik, seperti musium, air port, dan lain-lain.
  • Ikut perlombaan olah raga.
  • Wisuda penerimaan ijazah.
  • Program bekerja sambil belajar seperti dilapangan bisnis, industri, dan semacamnya. 
2) Hubungan guru dengan masyarakat. 
  • Guru dapat menjadi sponsor pada kegiatan yang menguntungkan seperti kegiatan pengumpulan dana bagi masyarakat yang tertimpa musibah. 
  • Ikut berpartisipasi bersama masyarakat untuk kerja bakti bersih-bersih lingkungan atau membuat perpustakaan keliling. 
  • Mengmbangkan sebuah kegiatan yang untuk para sesepuh yang ada dilingkungan persekolahan dan lain-lain. 
3) Hubungan sekolah dengan orang tua murid. 
  • Mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan wali murid.
  • Pihak sekolah mengunjungi orangtua.
  • Pihak sekolah mengirim surat ke orangtua siswa.
  • Melibatkan orang tua siswa dalam hal:  Merencanakan kurikulum & Kegiatan ekstrakurikuler dan lain-lain. 
TEKNIK-TEKNIK HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT 
Ada sejumlah tehnik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, tehnik-tehnik tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu teknik tertulis, teknik lisan, dan teknik peragaan, teknik elektronik. 
  1. Teknik Tertulis
    Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi: 
  • Buku kecil pada permulaan tahun ajaran
    Buku kecil pada permulaan tahun ajaran baru ini isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat masuk, hari-hari libur, hari-hari efektif. Kemudian buku kecil ini dibagikan kepada orang tua murid, hal ini biasanya dilaksanakan di taman kanak-kanak (TK). 
  • Pamflet
    Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamphlet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga (Indrafachrud: 1994). 
  • Berita kegiatan murid.
    Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid. 
  • Catatan berita gembira
    Tehnik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat. 
  • Buku kecil tentang cara membimbing anak
    Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid (Bafadhol, 2005: 63). 
      2. Teknik Lisan
          Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu: 
  • Kunjungan rumah
    Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut (Indrafachrud, 1994: 69). 
  • Panggilan orang tua
    Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah dating, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya. 
  • Pertemuan
    Dengan tehnik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara. 
      3. Teknik Peragaan 
  • Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat   peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan bias berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi, atau biasanya di pesantren ketika mengadakan pengajian ditampilkan santri-santri yang hafal nadhom alfiyah. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru atau juga pengasuh kalau di pondok pesantren dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu (Bafadhol, 2005: 69). 

      4. Teknik Elektronik 
  • Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan. 
BENTUK OPERASIONAL 
Tergantung pada inisiatif dan kreatifitas sekolah, kondisi dan situasi, fasilitas sekolah dan sebagainya. 
  1. Di bidang Sarana Akademik
    Tinggi rendahnya prestasi lulusan (kualitas maupun kuantitas), penelitian, karya ilmiah (lokal, nasional, internasiona), jumlah dan tingkat kesarjanaan pendidiknya, sarana dan prasarana akademik termasuk laboratorium dan perpustakaan atau PSB, SB yang mutakhir serta teknologi instruksional yang mendukung PBM, termasuk ukuran prestasi dan prestise-nya. 
  2. Di bidang Sarana Pendidikan
    Gedung atau bangunan sekolah termasuk ruang belajar, ruang praktikum, kantor dan sebagainya beserta perabot atau mebeuler yang memadai akan memiliki daya tarik tersendiri bagi popularitas sekolah. 
  3. Di bidang Sosial
    Partisipasi sekolah dengan masyarakat sekitarnya, seperti kerja bakti, perayaan-perayaan hari besar nasional atau keagamaan, sanitasi dan sebagainya akan menambah kesan masyarakat sekitar akan kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekitar sebagai anggota masyarakat yang senantiasa sadar lingkungan demi baktinya terhadap pembangunan masyarakat. 
  4. Menyediakan fasilitas sekolah untuk kepentingan masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran PBM, demikian sebaliknya fasilitas yang ada di masyarakat sekitarnya dapat digunakan untuk kepentingan sekolah. 
  5. Mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dalam kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan masih banyak lagi kegitan operasional hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikreasikan sesuai situasi, kondisi serta kemampuan pihak-pihak terkait. 
FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG KEBERHASILAN 
Untuk mencapai keberhasilan dalam manajemen humas diperlukan beberapa hal yang mendukung, seperti 
  • perencanaan yang matang, 
  • pemberian informasi secara jelas kepada publik intrernal dan eksternal pelaksanaan yang terarah sesuai rencana, 
  • pemantauan dan pengevaluasian hasil sebagai bentuk pemberian feedback. 
KESIMPULAN 
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai lembaga pendidikan di era globalisasi dan desentralistik (otonomi daerah) menuntut team work yang solid antara pihak sekolah itu sendiri dengan pihak luar, baik instansi atasan maupun masyarakat. Melalui Manajemen Berbasis Sekolah, maka administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat menjadi kunci sukses di dalamnya. 

Dan ketika hubungan sekolah dengan masyarakat ini dapat berjalan harmonis dan dinamis dengan sifat pedagogis, sosiologis dan produktif, maka diharapkan tercapai tujuan utama yaitu terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara produktif, efektif, efisien dan berhasil sehingga menghasilkan out-put yang berkualitas secara inteletual, spritual dan sosial. 

DAFTAR PUSTAKA 
Gunawan, Ary. 1996. Administrasi Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mulyasa, Endang. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Pidarta, Made. —–. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
PP RI No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
UU RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. 

Selasa, 04 Desember 2012

HAK ASASI MANUSIA

Pengertian Hak Asasi Manusia 
Hak asasi manusia (HAM) mempunnyai arti penting bagi kehidupan manusia terutama dalam hubungan antar Negara (penguasa) dan warga Negara (rakyat), dan dalam hubungannya antara sesama warga Negara. HAM yang berisi hak-hak dasar manusia memuat standar normatif untuk mengatur hubungan penguasa dengan rakyatnya dan hubungan rakyat dengan sesama rakyat. Oleh karena itu, penegakan HAM mempunnyai makna penting untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat dari kesewenang-wenangan penguasa.

Jan Materson, anggota Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), merumuskan pengertian HAM dalam ungkapan “human rights could be generally defines as those rights whics are inherent in our nature and without which we can not live as human being”. Artinya, HAM adalah hak-hak yang secara inheren melekat dalam diri manusia, dan tanpa hak itu manusia tidak dapat hidup sebagai manusia.

Dari pengertian tersebut, maka dalam HAM terkandung dua makna, yaitu: Pertama, HAM merupakan hak alamiah yang melekat dalam diri setiap manusia sejak ia dilahirkan ke dunia. Hak alamiah adalah hak yang sesuai dengan kodrat manusia sebagai insan merdeka yang berakal budi dan berperikemanusiaan. Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang diperkenankan merampas hak tersebut dari tangan pemiliknya. Hal ini tidak berarti bahwa HAM bersifat mutlak tanpa batasan, karena batas HAM seseorang adalah HAM yang melekat pada orang lain.

Kedua, HAM merupakan instrumen untuk menjaga harkat dan martabat manusia sesuai dengan kodrat kemanusiaan yang luhur. Tanpa HAM manusia tidak akan dapat hidup sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia.

HAM bukan hanya merupakan hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak dilahirkan ke dunia, tetapi juga merupakan standar normatif yang bersifat universal bagi perlindungan hak-hak dasar itu dalam lingkup pergaulan nasional, regional, dan global.

Secara sederhana, hak asasi manusia dapat diartikan sebagai hak dasar (asasi) yang dimiliki dan melekat pada manusia karena kedudukannya sebagai manusia. Tanpa adanya hak tersebut, manusia akan keholangan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok manusia yang dibawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, bukan pemberian manusia atau penguasa. Hak ini sifatnya sangat mendasar bagi hidup dan kehidupan manusia, serta bersifat kodrati, yakin ia tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia sebagai penyandang hak tersebut. (Bambang Cipto dkk:2006:164)


Non-Derogable right 
Non-derogable rights adalah hak asasi manusia (HAM) yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Non-derogable rights demikian dirumuskan dalam Perubahan UUD 1945 Pasal 28 I ayat (1) yang menyatakan sebagai berikut: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun”.

Sebelum non-derogable rights dirumuskan dalam UUD 1945, sudah ditegaskan pula di dalam Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 7 yang menyebutkan: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non–derogable)”.

Selanjutnya Pasal 4 UU No. 29 Tahun 1999 tentang HAM juga menyebutkan: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun”.

Pengklasifikasian non-derogable rights dan derogable rights adalah sesuai Konvenan internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR). Ifdhal Kasim dalam tulisannya “Konvensi Hak Sipil dan Politik, Sebuah Pengantar”, yang diterbitkan ELSAM, hak-hak non-derogable yaitu hak-hak yang bersifat absolut dan tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh negara-negara pihak, walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Miriam Budiarjo dalam “Perlukah Non-Derogable Rights Masuk Undang-Undang Dasar 1945”, (Jurnal Analisis CSIS, Tahun XXIX/2000 No.4, hlm. 413-416) mengatakan dengan dimasukkannya non-derogable rights dalam UUD, maka kita telah mengikat tangan sendiri. Misalkan saja, fakir miskin dan anak terlantar dalam UUD dinyatakan sebagai hak non- derogable, maka kita akan dituduh negara pelanggar HAM jika tidak memenuhinya karena berhubung dengan keterbatasan dana.

Sesuai dengan Pasal 28 I, ICCPR menyatakan hak-hak yang sama sekali tidak boleh dikurangi karena sangat mendasar yaitu: (i) hak atas hidup (rights to life); (ii) hak bebas dari penyiksaan (rights to be free from torture); (iii) hak bebas dari perbudakan (rights to be free from slavery); (iv) hak bebas dari penahanan karena gagal memenuhi perjanjian (utang); (v) hak bebas dari pemidanaan yang berlaku surut; (vi) hak sebagai subjek hukum; dan (vii) hak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan agama. Negara-negara pihak yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak dalam jenis ini, seringkali akan mendapat kecaman sebagai negara yang telah melakukan pelanggaran serius hak asasi manusia (gross violation of human rights).

Sedangkan intinya, sesuai dengan ICCPR, the European Convention on Human Rights dan the American Convention on Human Rights terdapat empat hak non-derogable umum. Atau beberapa pendapat menyebut The core of rights (hak inti) dari non derogable rights berjumlah empat. Ini adalah hak untuk hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi atau merendahkan atau hukuman lainnya, hak untuk bebas dari perbudakan atau penghambaan dan hak untuk bebas dari penerapan retroaktif hukum pidana. Hak-hak ini juga dikenal sebagai norma hukum internasional yg harus ditaati atau jus cogens norms. (www.un.org/esa/socdev/enable/comp210.htm, diunduh pada 22/9/2010).

Derogable Right
Derogable right adalah, hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negara-negara pihak. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini adalah: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai; (ii) hak atas kebebasan berserikat, termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh; dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekpresi, termasuk kebebasan mencari, menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tilisan).

Sebagaimana ditulis Ifdhal Kasim atau pendapat Prof. Laica Marzuki, negara-negara pihak boleh mengurangi atau menyimpangi kewajiban memenuhi hak-hak jenis non-derogable. Sedangkan non-derogable tidak diperkenankan. Tetapi penyimpangan itu hanya dapat dilakukan jika sebanding dengan ancaman yang dihadapi dan tidak bersifat diskriminatif, yaitu demi: (i) menjaga keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau moralitas umum; dan (ii) menghormati hak atau kebebasan orang lain. Prof. Rosalyn Higgins menyebut sebagai ketentuan “clawback’, yang memberikan suatu keleluasaan yang dapat disalahgunakan oleh negara. Untuk menghindari hal ini ICCPR menggariskan bahwa hak-hak tersebut tidak boleh dibatasi “melebihi dari yang ditetapkan oleh Kovenan ini”. Selain itu diharuskan juga menyampaikan alasan-alasan mengapa pembatasan tersebut dilakukan kepada semua negara pihak ICCPR.


Macam-macam HAM
  1. Hak Positif
    Hak positif adalah suatu hak bersifat postif, jika saya berhak bahwa orang lain berbuat sesuatu untuk saya. Contoh: hak atas pendidikan, pelayanan, dan kesehatan. Hak negatif haruslah kita simak karena hak ini terbagi lagi menjadi 2 yaitu: hak aktif dan pasif. Hak negatif aktif adalah hak untuk berbuat atau tidak berbuat sperti orang kehendaki. Contoh, saya mempunyai hak untuk pergi kemana saja yang saya suka atau mengatakan apa yang saya inginkan. Hak-hak aktif ini bisa disebut hak kebebasan. Hak negatif pasif adalah hak untuk tidak diperlakukan orang lain dengan cara tertentu. Contoh, saya mempunyai hak orang lain tidak mencampuri urasan pribadi saya, bahwa rahasia saya tidak dibongkar, bahwa nama baik saya tidak dicemarkan. Hak-hak pasif ini bisa disebut hak keamanaan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hak#Hak_Positif_dan_Hak_Negatif)
  2. Hak Negatif
    Hak Negatif adalah suatu hak bersifat negatif , jika saya bebas untuk melakukan sesuatu atau memiliki sesuatu dalam arti orang lain tidak boleh menghindari saya untuk melakukan atau memilki hal itu. Contoh: hak atas kehidupan, hak mengemukakan pendapat. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hak#Hak_Positif_dan_Hak_Negatif)
  3. Hak Sosial
    Hak Asasi Sosial Budaya/Sosial Culture Right
    a. Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan.
    b. Hak mendapatkan pengajaran.
    c. Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.( Tjipto Subadi:2010:94)

Rabu, 28 November 2012

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar menurut J.R David dalam Teaching for Colege Class Room (1976) ialah aplan, method, or series of activities designe to achicves a particular educational goal (P3G, 1980). Menurut pengertian ini strategi belajar-mengajar meliputi rencana metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Untuk melaksanakan strategi tertentu diperlukan seperangkat metode pengajaran. Strategi dapat diaktifkan sebagai aplan of operation achiving something “rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu”.
Jadi strategi belajar adalah cara untuk menyesuaikan taraf belajar dengan kemampuan dan daya potensial yang dapat meningkatkan kemampuan pedagogik dalam diri seseorang.

Selain itu strategi belajar meliputi :
  • Salah satu komponen dalam sistem pengajaran.
  • Komponen dari sistem pengajaran adalah tujuan, materi, strategi dan evaluasi.
  • Strategi belajar mengajar adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberikan kemudahan atau
  • Fasilitas kepada siswa agar dapat mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan.
  • Metode mengajar adalah cara mengajar yang lebih umum yang dapat digunakan untuk semua jenis mata pelajaran.
  • Teknik mengajar adalah cara mengajar yang memerlukan kecakapan khusus dari suatu mata pelajaran.
  • Strategi belajar mengajar yang baik adalah yang dapat menjamin tercapainya tujuan pengajaran yang efektif, efisien, dan ekonomis serta dapat
  • Meningkatkan keterlibatan siswa baik secara intelektual maupun fisik.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi SBM
  1. Tujuan pengajaran
    Tujuan pengajaran merupakan acuan yang dipertimbangkan untuk memilih strategi belajar mengajar .
  2. Guru
    Masing-masing guru berbeda dalam pengalaman, pengetahuan, kemampuan menyajikan pelajaran,gaya mengajar, pandangan hidup dan wawasan. Perbedaan ini mengakibatkan adanya perbedaan dalam pemilihan st rat egi belajar mengajar yang digunakan dalam program pengajaran.
  3. Peserta didik
    Dalam kegiatan belajar mengajar peserta didik mempunyai latarbelakangyang berbeda-beda, hal ini perlu dipertimbangkan dalam menyusun strategi belajar mengajar yang tepat
  4. Materi pelajaran
    Materi pelajaran dapat dibedakan antara materi formal (isi pelajaran dalam buku teks resmi/ buku paket di sekolah) dan materi informal (bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah)
  5. Metode pengajaran
    Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar.
  6. Media pengajaran
    Keberhasilan program belajar mengajar tidak tergantung dari canggih atau tidaknya media yang digunakan, tetapi dari ketepatan dan keef ektif an media yang digunakan.
  7. Faktor administrasi dan finansial
    Terdiri dari jadwal pelajaran, kondisi gedung dan ruang belajar.
Macam – macam SBM
Dalam hal ini dikenal tiga macam strategi belajar mengajar yaitu:
  1. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada guru.
    Strategi seperti ini lebih sering disebut dengan gaya bank. Strategi ini sanggat kurang dikarenakan siwa hanya tahu apa yang diberitahukan oleh guru. Jadi siswa tidak leluasa untuk mengembangkan kemampuan yang ada.
  2. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada peserta didik
    Strategi ini lebih mengutamakan kreatifitas perserta didik untuk dapat mengembangkan daya fikir dan guru hanya sebagai fasilifator.
  3. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada materi pengajaran.
    Srategi ini guru sama perserta didik sama-sama belajar menganut buku referensi yang digunakan dalam pembelajaran.
Dilihat dari kegiatan pengolahan pesan atau materi, maka strategi belajar mengajar dibedakan dalam dua jenis, yaitu:
  1. Strategi belajar mengajar ekspositori dimana guru mengolah secara tuntas pesan/materi sebelum disampaikan di kelas sehingga peserta didik tinggal menerima saja.
  2. Strategi belajar mengajar heuristik atau kuriorstik, dimana peserta didik mengolah sendiri pesan/ mat eri dengan pengarahan dari guru.
Strategi belajar mengajar dilihat dari cara pengolahan atau pesan atau materi dibedakan dalam dua jenis, yaitu:
  1. Strategi belajar mengajar deduksi yaitu pesan diolah mulai dari umum menuju kepada yang khusus, dari hal-hal yang abstrak kepada hal-hal yang konkrit.
  2. Strategi belajar mengajar induksi yaitu pengolahan pesan yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke hal-hal umum, dari peristiwa-peristiwa yang bersifat induvidual menujuke memproses generalisasi.
Beberapa Metode Pada KBM
Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah :
  1. Metode Ceramah
    Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
  2. Metode tanya jawab
    Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.
  3. Metode diskusi
    Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.
  4. Metode belajar kooperatif
    Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.
  5. Metode demonstrasi
    Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
  6. Metode ekspositori atau pameran
    Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.
  7. Metode karyawisata/widyamisata
    Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.
  8. Metode penugasan
    Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
  9. Metode eksperimen
    Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.
  10. Metode bermain peran
    Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.

Download :

Rabu, 14 November 2012

MENDIDIK MANUSIA WIRASWASTA MELALUI KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT

Kewiraswastaan merupakan suatu hal yang sangat ingin dilakukan oleh sebagian orang. Profesi ini mulai banyak digemari oleh orang-orang dari berbagi kalangan masyarakat. Hal ini sebagai batu loncatan atas kegagalan-kegagalan dalam mencari pekerjaan. Kewirausahaan merupakan suatu profesi mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain bahkan dikemudian hari ini bisa menciptakan suatu lapangan pekerjaan. Dengan ketekunan dan ktreatifitas yang dimiliki oleh seorang wirausahawan, akan mampu mendobrak persaingan globalisasi yang berkembang pesat. Untuk menjadi wirausahawan tidaklah semudah membalikkan telapak tangang, perlu adanya pendidikan, pelatihan, dan juga menanamkan jiwa wiraswasta dalam diri.

Banyak sekali pendidikan atau pelatihan tentang berwiraswasta, baik dalam pendidikan formal mapun nonformal. Pedidikan kewirausahaan dalam sekolah bertujuan untuk membekali jiwa wiraswasta bagi siswa, dan diharapkan setelah lulus nanti mampu mengeksplorasi dan mengembangkan bakat kewirausahaan untuk mulai merintis suatu inovasi baru dalam bidang usaha dan bersaing dengan perkembangan arus globalisasi. Selain pendidikan wirausaha disekolah penanaman jiwa wirausaha sejak dini juga harus dilakukan terutama dilingkungan keluarga dan masyarakat. Seorang wirausahawan bisa bertindak sebagai karyawan sekaligus manajer dan owner bagi usahanya, sehingga maju atau mundurnya usaha tersebut tergantung dari kesungguhan yang bersangkutan. Jika kancah bisnis tersebut dijalani dengan tekun, kerja keras, penuh semangat dan tidak mudah putus asa, niscaya usaha tersebut pasti akan meraih sukses.

1. Pengertian Wiraswasta
Secara Etimologis, Wira berarti perwira, utama, teladan, berani. Swa berarti sendiri, sedangkan Sta berati berdiri. Jadi wiraswasta berarti keberanian berdiri di atas kaki sendiri (dalam berusaha, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup).

Kewirausahaan adalah semangat, perilaku dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan managemen.Untuk menjadi pengusaha yang sukses, seorang dituntut untuk memenuhi kualifikasi sebagai seorang wirausahawan. Pada kenyataannya tidak semua pengusaha adalah wirausahawan yang memiliki sifat kewirausahaan. Pada umumnya yang dimaksud dengan wirausaha sama dengan wiraswasta atau pengusaha yaitu semua orang yang memiliki usaha atau melakukan kegiatan usaha untuk memperoleh keuntungan atau komisi. Ciri negatif tapi sangat menonjol pada sebagian pengusaha kita ditahun 80-an dan 90-an adalah semangat dan perilaku mereka mencari keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara.

Wirausaha adalah seseorang yg merasakan adanya peluang, mengejar peluang yg sesuai dengan situasi dirinya, dan percaya bahwa kesuksesan suatu hal yang dapat dicapai (Jose Charlos Jarilo-Mossi). Wiraswasta adalah seseorang yang mampu menciptakan produk / jasa dengan kekuatan inovasi sehingga lebih efisien / efektif serta bertujuan untuk kesejahteraan dirinya ( orang lain). Seseorang wiraswastawan modal utamanya adalah ketekunan yang dilandasi sikap optimis, kreatif dan melakukan usaha sebagai pendiri pertama disertai pula dengan keberanian menanggung resiko berdasarkan suatu perhitungan dan perencanaan yang tepat, adanya perhitungan dan perencanaan yang tepat sebetulnya wiraswastawan bukanlah pengambil resiko.

2. Peran keluarga, sekolah dan masyarakat dalam mendidik manusia wiraswasta
Penendidikan wirausaha pada umumnya merupakan suatu proses pendidikan untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha, upaya ini semakin lama semakin digalakkan dan dibeberapa sekolahpun sudah di berikan, hal ini bertujuan untuk mengimbangi perkembangan arus globalisasi yang mana setiap orang dituntut untuk mampu bersaing dan mengembangkan inovasi-inovasi dalam berwirausaha. Fondasi utama dalam menumbuhkan jiwa wirausahawan adalah mental untuk berwirausaha dan hanya dapat di bentuk oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. 

Penanaman jiwa wiraswasta oleh keluarga sejak dini akan sangat berdampak besar terhadap kemampuan anak dalam berwirausaha kedepan. Dalam pendidikan formal disekolah juga sudah mulai dirintis pendidikan berwiraswasta. Dengan adanya pendidikan wiraswasta di bangku sekolah, siswa diharapkan selain menguasai akademik, tapi juga mampu miningkatkan minat siswa untuk berwiraswasta. Pemberian bekal pada siswa ini akan berdampak ketika mereka lulus nanti, sebagai modal untuk menjadi wirausaha muda yang berkualitas dan langsung bisa bersaing, dan minimal ini dapat mengurangi angka pengangguran. Selain itu keluarga tetap mempunyai peranan penting dalam menciptakan wirausahawan, keluarga memilki semua aspek yang dibutuhkan dalam berwirausaha, mulai dari modal financial sampai pada bimbingan dukungan moral.Keluarga merupakan tempat pertama bagi kita dalam mendapatkan segala hal, mulai dari pendidikan , tingkah laku, sopan santun bahka gaya kehidupan mendatang juga sangat terpengaruh dengan kondisi keluarga. Berwirausaha merupakan salah satu kegiatan yang juga tidak luput dari pengaruh keluarga. 

Program Pengembangan kewirausahaan diharapkan menjadi wahana yang sinergis antara penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa kewirausahaan. Serta dengan berkembangan pendidikan kewirausahan diharapkan seorang siswa tidak hanya akan berkembang nilai akademisnya saja. Akan tetapi juga akan memberikan kemandirian perekonomian dalam kewirausahaan. Sebagai akibatnya akan memberikan kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan (peluang) dalam bisnis serta kemampuan mengoptimalisasikan sumber daya dan mengambil tindakan serta memiliki motivasi tinggi dalam mengambil resiko dalam rangka menyukseskan bisnisnya.

Minat siswa terhadap kewiraswastaan perlu diketahui oleh guru maupun siswa irusendiri mengingat minat ini dapat mengarahkan siswa untuk melakukan pilihan dalam menentukan cita-citanya. Cita-cita merupakan perwujudan dari minat dalam hubungan dengan proses/jangkauan masa depan bagi siswa untuk merencanakan dan menentukan pilihan terhadap pendidikan, jabatan atau pekerjaan yang diinginkan. Siswa yang berminat dalam berwirasawasta cenderung memilih karir ke sektor swasta dan berwiraswasta. Dalam kaitan ilmu pengetahuan, siswa yang berminat dalam wiraswasta akan tertarik dengan pengetahuan/ilmu yang berhubungan dengan minatnya tersebut.

Peranan sekolah atau peguruan tinggi adalah untuk memotivasi siswa agar setelah lulus mereka mampu menjadi seorang wirausahaan muda yang berkualitas dan siap bersaing. Sehingga semakin banyak lulusan siswa atau mahasiswa dapat mengurangi pertambahan jumlah pengangguran bahkan menambah jumlah lapangan kerja. Akan tetapi sekarang pertanyaannya adalah apakah sekolah atau perguruan tinggi dapat melahirkan atau mencetak wirausahawan muda? Oleh karena itu sekarang peranan sekolah dan perguruan tinggi memotivasi para lulusansekolah atau sarjana menjadi seorang wirausahawan muda untuk meningkatkan jumlah wiraussahawan serta diharapkan mampu membuka lowongan baru.

Pendidikan kejuruan atau kewirausahan khususnya yng berkenaan dengan bisnis ,dapat dilakukan pada setiap jenjang pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar,Sekolah Menengah Pertama,Sekolah Menengah Atas sampai pada Perguruan Tinggi. Sebagai negara yang sedang berkembang ,Indonesia masih kekurangan wirausahawan. Hal ini masih dapat dipahami, karena kondisi pendidikan di Indonesia masih belum menunjang kebutuhan pembangunan pada sektor Ekonomi. Hal ini terbukti bahwa hampir seluruh sekolah masih didominasi oleh pelaksanaan pendidikan dan pembelajarang yang konvensional. Semua terjadi karena institusi pendidikan dan masyarakat kurang mendukung pertumbuhan wirausahawan.Peluang sukses dalam berwirausaha pada saat ini sangatlah besar, dari 230 juta penduduk Indonesia hanya 0.18% yang baru bergelut dibidang wiraswasta, angka yang sangat kecil.Padahal menurut consensus negara maju minimal harus memiliki wirausahawan sebesar 2% dari total penduduknya. 

Mendidik anak untuk memiliki mental wirausaha sejak dini dapat berbentuk seperti mengajari anak tidak boros, rajin menabung, dan perbuatan terpuji lainnya. Dengan begitu, apabila ini dilakukan secara bertahap akan membentuk karakter wirausaha yang kuat dalam diri anak. Sebagai contoh anaknya yang masih sekolah dasar diminta untuk memberikan hadiah ulang tahun sesuatu yang tak ada di toko. Akhirnya, dengan kreativitasnya sendiri, anaknya menyusun sebuah lagu lengkap dengan aransemen musik ciptaannya sendiri. Beberapa langkah yang dapat diajarkan sejak anak balita sampai usia dini adalah pertama, membiasakan anak untuk mengungkapkan gejolak jiwanya dalam bentuk sesuatu yang tertulis baik berupa tulisan maupun gambar. Kedua, mendidik anak dengan kebaikan-kebaikan yang muncul dari dirinya sendiri sebagai hasil dari serapan anak terhadap lingkungan atau apa yang dilihat dari orang tua, guru dan teman-temannya. Ketiga, membiasakan perbuatan baik yang sudah dilakukan, Keempat, menjadikan kebiasaan itu menjadi karakter. Salah satu ciri menjadi karakter adalah jika perbuatan itu tidak dilakukan, maka anak akan merasa kehilangan dan atau mengingatkan akan kebiasaan yang belum dilakukan tersebut.

Ciri-ciri manusia wiraswasta secara umum adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri di dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan kekuatan pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Di samping itu, manusia wiraswasta mampu mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan lahir maupun kemiskinan batinnya tanpa menunggu pertolongan/bantuan dari negara atau instansi pemerintah, ataupun bantuan dari instansi sosial.

Pendidikan wiraswasta merupakan pendidikan yang bertujuan untuk menempa bangsa Indonesia sesuai dengan kepribadian Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pendidikan manusia wiraswasta berlansung seumur hidup di mana dan kapan saja, sehingga peranan subjek manusia untuk belajar dan mendidik diri sendiri secara wajar merupakan kewajiban kodrati manusia.

Sebagai realisasi dari prinsip ini, maka lingkungan pendidikan manusia wiraswasta meliputi lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama untuk menjadi manusia wiraswasta, yang kedua, lingkungan sekolah sebagai lingkungan pendidian formal untuk melengkapi bekal pribadi manusia wiraswasta, dan yang terakhir adalah lingkungan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan nonformal.


Download file:

Selasa, 13 November 2012

RODA PINTAR MATEMATIKA (Bangun Datar dan Bangun Ruang)

METODE PEMBUATAN ALAT PERAGA

Bentuk Alat Peraga
Alat peraga ini berupa papan persegi panjang 95cmx80cm dengan tebal 5cm, terdiri dari 3 lapisan berupa lingkaran (diameter 55 cm), persegi panjang dengan rongga berupa lingkaran di bagian tengah (95cmx80cm) serta dipaku pada figura kayu (95cmx80cm) kemudian di sisi lain figura ditutup dengan melamin persegi panjang (95cmx80cm),dan di dalam rongga figura terdapat lampu untuk menerangi ruang di dalamnya.

Alat dan Bahan
Dalam pembuatan alat peraga Roda Pintar Matematika (Bangun Datar dan Bangun Ruang) dibutuhkan alat dan bahan sebagai berikut .
  • Alat : Gergaji besar, Gergaji kecil, Spidol, Palu, Penggaris, Gunting, Bor, Meteran, Komputer, Print, Pensil
  • Bahan : Melamin (190cmx80cm), Triplek tebal (1cm) (55cmx55cm), List Alumunium (350cm), Paku (2cm) (2 ons), Kertas cover warna : merah muda (3 lembar), hijau muda (3 lembar), biru muda (3 lembar), Baut dan mur as roda (14) (1 buah), Papan ( lebar 5cm) (350cm), Lampu (10watt) (1 buah), Kabel (3 meter), Saklar (1 buah), Stop kontak (1 buah), Spidol Permanen hitam (2 buah), Mika tebal (1 lembar), Double tape (1buah), Asturo stiker: Biru muda (2lembar), Biru tua (1lembar)

Prosedur Pembuatan
  • Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan
  • Membuat desain gambar sesuai rencana
  • Memotong 2 Melamin sesuai ukuran 95cmx80cm (persegi panjang)


  • Memotong triplek berbentuk lingkaran dengan diameter 51cm









  • Membuat sketsa lingkaran berdiameter 50cm, 40cm, 30cm dan 20cm menggunakan pensil agar dapat dihapus









  • Membuat tiga lubang berbentuk lingkaran dengan diameter 5cm di antara sketsa lingkaran 1 dan ke 2, sketsa lingkaran 2 dan ke 3, dan di antara sketsa lingkaran 3 dan ke 4 dari pusat lingkaran. 









  • Memotong kayu berukuran (10cmx2cm) lalu buatlah anak panah menggunakan mika tebal, lalu tempel pada bagian tepi triplek lingkaran. 









  • Hapuslah sketsa pada lingkaran dan beri keterangan pada setiap lubang kecil yang ada berupa (keliling,luas,dan volume) melingkar pada masing-masing lubang dan lapisi lingkaran tersebut dengan asturo stiker.






  • Ambil satu Melamin yang telah dipotong, buat garis horisontal dengan jarak 15cm dari tepi atas melamin. 













  • Pada melamin yang telah digaris, buat lubang lingkaran dengan diameter 50cm pada sisi yang terbesar (bagian bawah melamin).




  • Kita anggap melamin pertama adalah melamin dengan ukuran (95cmx80cm) yang memiliki 1 lubang besar berbentuk lingkaran dengan diameter 50cm dan sebuah garis horizontal yang berjarak 15cm dari tepi atas, dan melamin kedua adalah melamin persegi panjang dengan ukuran 95cmx80cm.
  • Pada melamin pertama kita buat 2 sketsa lingkaran dengan diameter 74cm dan 54cm pada sisi muka. 

  • Bagi lingkaran yang telah dibuat pada melamin yang memiliki jarak 10cm dari keduanya menjadi 16 buah petak dengan ukuran besar yang sama.











  • Membuat lubang kecil pada bagian atas dibawah garis horzontal sebagai tempat dudukan saklar. 












  • Membuat sketsa gambar bangun datar dan bangun ruang beserta keterangannya dengan computer sesuai dengan design lalu di print out dengan kertas cover warna (merah muda untuk bangun datar, hijau muda untuk bangun ruang) lalu dilaminating dan potonglah seukuran dengan petak yang telah dibuat. 








  • Hasil potongan kertas tadi tempelkan pada melamin pertama pada masing-masing petak. 












  • Membuat sketsa lingkaran pada melamin kedua dengan diameter 50cm, 40cm, 30cm dan 20cm menggunakan pensil agar dapat dihapus, dengan posisi sama seperti lubang pada melamin pertama dan bagilah lingkaran yang berdiameter 50cm menjadi 16 juring dengan besar yang sama. 













  • Satukan kedua melamin dan triplek lingkaran yang telah diberi 3 lubang menjadi satu. 








  • Putar anak panah menuju setiap bangun yang ada dan tuliskan rumus keliling, luas, dan volume setiap bangun tersebut didalam lubang yang tersedia yang hasilnya akan tampak pada melamin kedua.
  • Pisahkan ketiga bahan tersebut, lalu pada melamin kedua berilah lubang pada bagian pojok kiri bawah sebagai tempat keluarnya kabel. 












  • Membuat lubang pada triplek (lingkaran) dan melamin kedua (95cmx80cm) pada pusat lingkaran.









  • Buat figura kayu dengan ukuran 95cmx80cm dan tebal kayu 5cm.












  • Tempelkan dudukan lampu yang telah tersambung dengan kabel pada bagian atas dalam figura. 












  • Tempel melamin kedua (95cmx80cm) pada belakang figura dengan sisi halus menghadap kedalam figura dengan menggunakan paku.












  • Potong kayu dengan tebal 5cm sebanyak 16 buah dan tempel pada bagian luar lingkaran masing-masing petak. 













  • Pasang lampu pada dudukan yang telah dibuat. 
  • Pasang saklar pada melamin pertama dengan lubang yang telah dibuat tadi dan sambung dengan kabel yang terhubung pada dudukan lampu lalu keluarkan kabel melalui lubang kecil dan pasangkan stop kontak pada ujung kabel.
  • Tempel melamin pertama pada sisi depan figura dengan sisi halus diluar dengan menggunakan paku.














  • Pasang paku pada 16 titik bagian dalam petak lingkaran hingga menembus balok kayu yang telah ditempel tadi sedalam 1cm.
  • Pasang lis aluminium pada pinggiran figura bagian depan dan belakang dengan rapi kemudian paku.
  • Masukkan baut pada lubang yang ada dipusat triplek lingkaran, kemudian satukan dengan bagian yang sudah jadi tadi.













  • Kemudian baut itu dipastikan menembus melamin kedua, lalu pasang mur dan kencangkan.
  • Buat nama alat peraga di bagian atas, keterangan di lingkaran tengah, dan keterangan pada tombol saklar.














  • Finishing yaitu pengecekan lampu apakah menyala dengan baik, apakah roda dapat berputar, dan tiga lubang kecil pada triplek dapat menunjukkan rumus dengan tepat.






Download File

Created by :
Lilis S
Hafid Wicaksana